Bumerang Penggunaan Media Sosial
Memasuki era
media baru di kalangan masyarakat memberikan sebuah pengaruh yang cukup
signifikan dalam hal bersosialisasi antar individu. Media sosial sebagai bentuk
dari media baru hadir dengan memberikan banyak perubahan dalam kehidupan sehari
– hari dalam masyarakat. Jaman sekarang, kehidupan nyata mulai beralih ke dalam
media sosial. Media sosial hadir untuk mewadahi kehidupan dari dunia nyata,
misalnya saja media sosial yang masih digemari sampai sekarang dan menjadi
salah satu media sosial terpopuler adalah instagram. Instagram yang hanya merupakan
layanan berbasis internet sekaligus jejaring sosial untuk berbagi cerita via gambar
digital (Feri, 2015: 119). Instagram masih terus bertahan hingga sekarang
karena banyak peningkatan yang terus diberikan pada media sosial ini, sehingga
instragram merupakan media sosial yang paling modern serta efisien dan efektif
untuk berbagi cerita, foto, video yang menyangkut informasi di dalamnya. Maksud
dari kehidupan nyata yang mulai beralih ke dalam media sosial adalah terkait
dengan konsep komunikasi digital. Karena konsep ini membahas bagaimana individu
yang tadinya berbincang – bincang, lalu mengalami perkembangan dengan
ditemukannya teknologi baru dimana individu melakukan sebuah interaksi dan
penyampaian pesan melalui beberapa perangkat tambahan, seperti komputer,
handphone, internet, dan sebagainya (Suryanto, 2015: 382). Media sosial menjadi
salah satu media yang bahkan mencakup berbagai fungsi, misalkan instagram yang
bisa digunakan untuk video call, direct message, sharing, hingga banyak berita
yang dapat diunggah melalui aplikasi instagram. Tidak hanya sekedar untuk bersosialisasi,
namun media sosial sudah mencakup aktivitas politik hingga perekonomian dimana
banyak online shop yang memanfaatkan media sosial untuk melakukan aktivitas perdagangan
dengan pengguna media sosial yang tersebar luas. Dalam kaitannya dengan media
penyalur informasi, banyak konsumen yang mulai beralih sebagai prosumen karena
informasi yang didapat oleh individu yang tersebar di seluruh dunia dapat
dengan mudah diunggah oleh konsumen untuk konsumsi khalayak secara luas di
media sosial, sehingga menjadikan individu yang tadinya hanya sekedar konsumen,
bisa beralih sebagai prosumen. Efek dari media sendiri juga memberikan perubahan
dalam kognisi, sikap, emosi dari yang dipaparkan oleh media (Straubhaar, LaRose,
Davenport, 2014: 404). Sehingga apa yang dipaparkan oleh media dapat mengubah perilaku
penggunanya. Misalnya saja dalam penggunaan instagram, terdapat fitur explore
yang disediakan instagram. Kemudian kita sebagai pengguna pasti memiliki
ketertarikan terhadap sesuatu (musik, hewan, gosip, makanan, puisi, dan lain –
lain), disaat kita mencari apa yang kita sering telusuri, maka instagram akan
menampilkan konten yang biasa kita telusuri dalam fitur explore. Jika yang pada
awalnya hanya sekedar mencari tahu sejenak, kemudian apa yang telah kita cari
akan terus bermunculan dalam explore instagram kita. Hal ini tentu memberikan
dampak positif dan juga negatif. Positifnya, ketika kita mencari sesuatu yang bermanfaat
maka kehidupan serta perasaan kita akan selalu positif disaat sebelum, saat,
dan sesudah menggunakan media sosial. Namun, apabila kita mencari sesuatu yang
negatif, maka hal itu akan terus berdampak pada emosi, sikap, perilaku kita
setelah menggunakan media sosial tersebut. Hal ini juga tidak hanya diterapkan
oleh instagram, namun youtube juga mulai menerapkan sistem seperti ini sehingga
ini merupakan awal dimana media sosial dapat mempengaruhi emosi, sikap, serta
perilaku kita dalam kehidupan sehari – hari seketika kita mendapatkan sesuatu
yang dipaparkan oleh media sosial. Tidak bisa dipungkiri, penggunaan media sosial
semakin sering diakses karena banyak masyarakat yang mulai terjerumus ke dunia
maya. Sehingga media sosial dapat dikatakan sebagai dunia baru bagi kehidupan
masyarakat karena media internet juga memiliki karakter sebagai link medium
yang tak mengenal batas (borderless) (Wahyuni, 2013: 1). Hal ini berkaitan
dengan bagaimana informasi dari budaya lain dapat dengan mudah kita peroleh
namun belum tentu dapat kita cerna dengan baik akibat perbedaan budaya. Misalkan
dari bagaimana budaya barat bersosialisasi dalam media sosial dengan membagikan
foto serta video yang cenderung frontal, vulgar, dan apa adanya. Hal seperti
ini bisa dengan sulit dicerna oleh kita sebagai masyarakat Indonesia dan bisa
saja berdampak pada emosi, sikap, dan perilaku kita disaat kita menjalani hari –
hari kita. Maka dari itu, isu ini bukanlah sepenuhnya penyebab dari hadirnya
media sosial, namun hal ini bisa saja karena faktor penggunanya yang harus
lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Karena bagaimanapun, media
sosial layaknya bumerang yang akan menjadi baik jika kita mencari sesuatu yang
bermanfaat dan juga media sosial akan menjadi buruk jika kita mencari sesuatu
yang tidak bermanfaat mengingat bagaimana media sosial dipengaruhi dari apa
yang kita klik atau kita telusuri yang kemudian terus menyajikan lebih dalam
mengenai apa yang kita telusuri.
Daftar Pustaka
Straubhaar,
Joseph, Robert LaRose, Lucinda Davenport. (2014). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology. Eighth Edition.
Boston: Wadsworth Cengange Learning
Wahyuni, Indah
Hermin. (2013). Kebijakan Media Baru Di
Indonesia: Harapan, Dinamika, Dan Capaian Kebijakan Media Baru Di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sulianta, Feri.
(2015). Keajaiban Sosial Media.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Suryanto.
(2015). Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung:
CV Pustaka Setia
Comments
Post a Comment