Tontonan Masyarakat Indonesia

Berkaitan dengan berkembangnya televisi yang diiringi dengan perkembangan teknologi komunikasi dengan berbagai kelebihannya. Memungkinkan sebuah televisi meningkatkan kemampuannya dalam menyimpan, menyampaikan, dan memanipulasi informasi (Nasution, 2016: 5). Namun pertanyaannya, apakah hal ini akan menimbulkan dampak positif bagi yang terkait dengan pertelevisian, seperti (selebritis, penonton, produser, pemasok iklan) atau bahkan memberikan dampak negatif? Karena seperti yang kita ketahui, perkembangan televisi sendiri mempengaruhi acara yang ditayangkan kepada penonton. Ditambah dengan berkembangnya televisi menjadi TV Kabel yang diciptakan untuk menjangkau tempat – tempat lain yang belum bisa dijangkau secara meluas dan bahkan televisi pun merambat dengan media video streaming melalui internet. Sehingga, acara televisi dapat diakses secara luas dengan berbagai media yang mampu digunakan oleh penonton. Ciri utama dari perkembangan teknologi komunikasi adalah terjadinya perkawinan antara berbagai jenis media dan teknologi yang kemudian menghasilkan bentuk – bentuk baru yang memiliki kemampuan berlipat ganda jika dibandingkan dengan apa yang telah ada sebelumnya. Bergabungnya TV dengan saluran aneka pelayanan komunikasi yang lengkap dan unik, yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya (Nasution, 2016: 5.3). Maka dari itu merambatlah TV menjadi TV kabel dan juga berkembang secara online. Streaming sendiri adalah proses pengiriman data kontinu alias terus – menerus yang dilakukan secara broadcast melalui internet untuk ditampilkan oleh aplikasi streaming pada personal computer (klien) (Fachruddin, 2012: 200). Dari perkembangan televisi ini, khususnya di Indonesia, terdapat berbagao acara yang semakin beragam di Indonesia. Namun apakah acara tersebut merupakan salah satu bentuk kreativitas tim acara atau justru penonton mengendalikan televisi? Jaringan televisi siaran nasional masih dianggap sebagai aset berharga dan mengintegrasikan produksi, distribusi, dan fungsi pameran publik, tetapi umumnya ditempatkan dalam kategori pertumbuhan yang lambat karena khalayak untuk tarif jaringan broadcast konvensional terus menyusut. Maka dari itu, stasiun televisi lokal terus menarik investasi dari pemilik grup yang dapat mengambil untung dari mengintegrasikan manajemen dan penjualan iklan di beberapa properti (Straubhaar, LaRose, Davenport, 2018: 231). Adapun untuk menarik berbagai grup agar mau berinvestasi dalam sebuah stasiun televisi dengan menayangkan berbagai acara yang digemari oleh penonton. Hal ini terjadi di Indonesia, seperti contohnya seperti pada Minggu pagi, jika dahulu pada Minggu pagi acara yang ditampilkan adalah tontonan anak – anak seperti doraemon, ultraman, satria baja hitam dan bahkan pada hari – hari biasa para remaja masih bisa menonton acara bernilai positif seperti tralala trilili, trio wek wek. Namun, semakin kita lihat pada jaman sekarang, banyak tayangan televisi yang menayangkan hiburan dewasa seperti film india, pesbukers, katakan putus, kisah nyata yang justru tayangan ini bukanlah tayangan yang mendidik. Namun ditayangkan karena masyarakat sendiri menggemari acara seperti ini, sehingga mendorong stasiun TV untuk menayangkan apa yang diinginkan publik untuk kepentingan ekonomi maupun rating. Satu sisi, hal ini memberikan keuntungan bagi pengiklan dan juga investor serta stasiun TV, namun hal ini memberikan dampak negatif kepada masyarakat Indonesia dari tayangan yang diberikan karena berkurangnya fungsi komunikasi, karena bagaimanapun, televisi adalah salah satu bentuk media massa sehingga komunikasi massa juga dilakukan melalui media televisi. Fungsi pendidikan dari komunikasi akhirnya luntur melalui penayangan acara televisi yang hanya mementingkan ekonomi dan rating, fungsi pendidikan sendiri seharusnya berupa pengalihan ilmu pengetahuan yang dapat mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta pembentukan keterampilan dan kemahiran yang diperlukan dalam semua bidang kehidupan (Suryanto, 2015: 29). Berkurangnya nilai pendidikan karena penayangan acara TV yang sedang dialami di Indonesia juga didukung oleh fakta bahwa Indonesia telah meningkatkan ketersediaan sebuah layanan informasi dan hiburan yang berlipat ganda dibandingkan dengan keadaan sebelumnya (Nasution, 2016: 9.3) dan justru melupakan nilai pendidikan dari acara yang ditonton. Selain dampak dari pengaruh iklan televisi dan acara – acara tertentu yang merangsang sifat konsumtif dan perubahan nilai budaya. Adapun masuknya siaran televisi dapat mempengaruhi jadwal kegiatan atau agenda harian masyarakat, khususnya di pedesaan (Nasution, 2015: 9.11). Waktu yang biasanya digunakan untuk menonton televisi menyebabkan masyarakat mengorbankan beberapa kegiatan lain yang semula dilakukan secara relatif teratur, karena seperti yang sedang dibahas dimana sekarang banyak tayangan TV yang ditampilkan sesuai keinginan masyarakat. Hal ini menjadi isu penting karena kita hidup di era globalisasi dimana semua acara TV dapat diakses dengan mudah, selain itu terdapat generasi milenial yang terbuka dengan masuknya nilai – nilai melalui media yang tersedia, sehingga perlu diwaspadai dan diperingatkan agar masyarakat, khususnya Indonesia untuk tetap mempertahankan nilai – nilai dasar Pancasila yang akan terus bersaing dengan nilai – nilai dasar yang bersumber dari ideologi lain yang masuk melalui jalan raya komunikasi dan informasi global saat ini.

Daftar Pustaka

Fachruddin, Andi. (2012). Dasar – Dasar Produksi Televisi: Produksi Berita, Feature, Laporan Investigasi, Dokumenter, dan Teknik Editing. Jakarta. Prenamedia Group
Nasution, Zulkarimein. (2015). Perkembangan Teknologi Komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Suryanto. (2015). Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung. CV Pusaka Setia
Straubhaar, Joseph, Robert LaRose, Lucinda Davenport. (2018). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology. (Tenth Edition) Boston: Cengange Learning

Comments