Kebebasan Pengguna Menuju Era Konvergensi
Salah satu permasalahan
yang dihadapi saat membahas media baru adalah istilahnya yang membingungkan,
jaman dulu yang biasa kita ketahui, saat koran diterbitkan, kita menyebut koran
sebagai bentuk media “baru” dan hingga jaman sekarang lahirlah internet yang
kita anggap sebagai media “baru” di jaman sekarang yang mungkin saja, bila hari
ini kita sebut baru maka esok hari bisa saja akan disebut lama. Dimulai dari
teknologi media tradisional atau teknologi analog yang dikenal bekerja secara
manual dengan alat yang sederhana dengan program tertentu saja, seperti tinta,
pena, mesin tik yang digunakan untuk membuat sebuah media yang kita kenal
sebagai media cetak dan kamera foto, cuci, cetak, kertas yang membentuk sebuah
media foto dan masih banyak lainnya, sehingga mempengaruhi dalam proses
penyebaran informasi yang cenderung membutuhkan waktu lebih lama. Seiring perkembangan
jaman, lahirlah media baru yang merupakan bentuk teknologi digital yang sudah
bekerja secara otomatis dan canggih dengam menggunakan sistem komputerisasi,
media baru merupakan istilah yang cenderung digunakan untuk bentuk – bentuk komunikasi
digital khususnya internet dan World Wide
Web (WWW). Media baru ini muncul sebagai hasil dari bentuk konvergensi
media yang menunjukkan adanya integrasi dari media yang sebelumnya ada. Penemuan
antara media cetak dengan komputer dan jaringan internet membuat kita mengenal
apa yang dinamakan dengan media online. Sehingga dalam proses penyebaran
informasi, dengan berbasis pada internet, segala informasi yang hendak
disampaikan akan tersampaikan dengan cepat ke berbagai wilayah di seluruh dunia.
Khususnya dalam isu bagaimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
dari analog ke konvergensi media yang dimana media baru ini telah membuat
hampir semua orang, terutama generasi muda memiliki kebebasan untuk bisa
menjadi jurnalis, pengkhotbah, guru, pembuat opini dan penyedia konten yang
dapat menyalurkan segala ide mereka dengan cepat. Dimulai dari bidang pemberitaan
pada jaman dahulu melalui media cetak, terdapat teori fungsi pers berupa otoritarian (menyampaikan kepada rakyat
apa yang diinginkan penguasa untuk diketahui rakyat) sehingga secara tidak
langsung, masyarakat hanya mampu menerima informasi yang ingin disampaikan
penguasa, misalnya pemerintah. Namun, seiring perkembangan teknologi dari
analog ke konvergensi media, terdapat perubahan perilaku masyarakat dan budaya
masyarakat yang terlihat pada generasi muda yang mulai mengabaikan nilai –
nilai konvensionalisme dan mengacu pada teori
Kahl, yang mengatakan bahwa perubahan budaya masyarakat saat ini lebih
mudah menerima budaya materialisme yang cenderung menggunakan handphone, laptop
yang berbasis internet, dan lain – lain yang kemudian khalayak banyak berperan sebagai
user (pengguna) dibandingkan untuk masyarakat membuat perangkat tersebut. Semakin
banyaknya technology user, semakin meningkatkan cipta masyarakat konsumtif yang
lebih dibandingkan media konvensional. Tentu hal ini secara tidak langsung menjadikan
khalayak untuk memanfaatkan teknologi media baru untuk memproduksi pesan atau
informasi yang diperolehnya dengan beragam sarana untuk menulis pesan dan
uploading gambar. Sehingga dilihat dari hal ini, berkembanglah bentuk
interaktifitas yang menunjukkan salah satu sifat media baru yang berbeda dengan
media sebelumnya, yaitu kendali yang dimiliki khalayak untuk memilih apa yang
hendak dicarinya hanya dengan meng-klik mouse komputernya atau menggunakan gadgetnya
masing – masing. Khalayak pun bisa berinteraksi dengan khalayak lain melalui mailing list yang disediakan media baru
seperti kolom komentar dalam portal berita berbasis intenet. Bahkan, khalayak
bisa memberi komentar terhadap informasi yang disajikan, seketika setelah dia
mencari dan membaca informasi tersebut dan dengan kebebasan menanggapi hingga
berpendapat tersebut, khalayak juga bisa membuat literasi media dengan bebas, yang merupakan suatu bentuk dimana
khalayak dapat membuat, mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi berita dan
informasi dari berbagai media. Alih-alih sekadar membiarkan media membombardir khalayak
dengan pesan yang disampaikan, khalayak juga dapat belajar menggunakan media
yang berbeda secara efektif untuk mendapatkan informasi yang khalayak butuhkan
untuk membuat keputusan yang produktif, khalayak bisa menjadi pencari informasi
yang aktif dan partisipan yang aktif, berkontribusi pada pasar ide dan bentuk
pemerintahan yang demokratis. Maka dari itu, dilihat dari bagaimana bebasnya khalayak
untuk menyampaikan berbagai opini dan dengan segala bentuk interaktifitas yang
semakin berkembang seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dari
analog ke konvergensi media juga melahirkan individu – individu yang
memanfaatkan fasilitas di internet dengan membangun situs pemberitaan pribadi
yang populer dengan sebutan blog. Berbagai blog pemberitaan pribadi seperti
yang memanfaatkan fasilitas pembuatan blog yaitu blogspot, wordpress, joomla. Adapun
blog yang dikelola dapat dibuat oleh berbagai kalangan khalayak, seperti
mahasiswa, profesional atau penyair. Kini, semua orang secara tidak langsung
bisa memiliki medianya masing – masing untuk menyebarluaskan informasi dan
membuat potensi pembuatan artikel – artikel melalui media online berbasis
internet terus meningkat yang melahirkan citizen
journalism. Dilihat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
dari analog ke konvergensi media, perjalanan tersebut menghasilkan sebuah isu dalam
perubahan pengguna media (user) dan menghasilkan perubahan besar dalam negara
demokrasi khususnya Indonesia yang membuat orang – orang bisa menyampaikan dan
menyuarakan berbagai mimpi, ide, pendapat, hingga harapan mereka tanpa rasa
takut terhadap hukuman dari penguasa dan pemimpin mereka.
Daftar Pustaka
Gora, Radita dan
Irwanto. 2015. Hukum, Etika, dan Kebijakan
Media: Regulasi, Praktik, dan Teori. Yogyakarta: DEEPUBLISH
Iriantara,
Yosal. 2014. Manajemen Media Massa.
Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Straubhaar,
Joseph, Robert LaRose, and Lucinda Davenport. 2012. Media Now: Understanding
Media, Culture, and Technology. 7: Wadsworth Cengage Learning, Boston
wow
ReplyDeletewkwkwk
ReplyDelete