Beralihnya Pembaca Koran ke Pembaca Online

Perkembangan teknologi yang semakin canggih tentu saja berpengaruh pada perkembangan dalam media cetak, khususnya surat kabar yang sekarang kita kenal sebagai koran. Media cetak sendiri berawal dari perkembangan komunikasi yang pesat dan terjadi pada akhir abad pertengahan yang pada saat itu memerlukan sebuah teknik baru bagi penyebarluasan atau pengiriman pesan, karena jumlah pembaca yang semakin bertambah, sedangkan dengan surat saja tidaklah cukup (Zulkarimein Nasution, 2017: 2.12). Maka dari itu, ditemukanlah mesin cetak yang menandai lahirnya riwayat komunikasi massa karena sejak itulah ada kesempatan untuk menyampaikan pesan yang panjang serta kompleks secara simultan ke khalayak yang jumlahnya banyak dan juga heterogen. Dari situlah, ditemukannya sebuah media cetak berupa surat kabar atau yang kita kenal sekarang adalah koran harian. Surat kabar pada saat itu merupakan lembaran berita yang memberitahukan kejadian terakhir dan dibutuhkan oleh para pedagang untuk mengetahui informasi, baik berupa situasi politik, perkembangan perang, serta tenggelamnya kapal, hingga terkait dengan ekonomi pada saat itu (Zulkarimein Nasution, 2017: 2.12). Namun seiring perkembangan teknologi, dimana semua berita telah bertransformasi dengan berbasis internet, berkembanglah portal berita yang kita ketahui. Banyak pembaca koran harian beralih untuk lebih mengakses portal berita yang berbasis internet dan mulai untuk meninggalkan koran harian. Hal ini dikarenakan penyampaian sebuah berita tentunya semakin cepat. Karena pada jaman dulu dimana surat kabar perlu disampaikan menggunakan sebuah transportasi, seperti kapal, kuda, kereta, atau bahkan burung merpati. Tidak hanya itu, di jaman dulu para wartawan perlu melakukan hampir semua tahap dalam pengumpulan berita (wawancara, pemeriksaan dokumen, dll) di lapangan, hingga wartawan perlu bergegas kembali ke kantornya untuk mengetikkan berita yang telah didapatnya atau melalui berbagai tahap yang lainnya untuk diposting dalam sebuah surat kabar (Joseph Straubhaar, Robert LaRose, Lucinda Davenport, 2012: 88). Berbeda dengan sekarang, dengan segala teknologi beserta akses internet, wartawan dapat dengan cepat mengetahui kejadian di berbagai wilayah dan langsung berkumpul lalu berproduksi (menulis, merekam audio, memotret visual) di lapangan dan langsung mengirimnya ke editor dan memposting berita tersebut melalui portal berita. Hanya dalam hitungan jam, menit, atau bahkan detik, kejadian yang ada di suatu wilayah tertentu langsung diketahui di wilayah lain dengan cepat melalui portal berita dan tentu saja hal ini dipengaruhi dengan perkembangan teknologi juga yang dimana semua alat semakin mengecil dan praktis untuk digunakan hingga proses produksi sebuah berita dapat dengan cepat dilakukan. Karena perkembangan surat kabar yang begitu pesat dan semua pembaca semakin menuntut dalam hal kecepatan serta kelengkapan berita, maka jurnalisme imersif semakin berkembang, jurnalisme imersif sendiri merupakan jurnalisme dimana surat kabar menempatkan khalayak seolah – olah berada di tengah cerita (Joseph Straubhaar, Robert LaRose, Lucinda Davenport, 2012: 90), istilah ini biasa melekat dengan televisi atau film dokumenter karena melibatkan visual, namun sama halnya dengan surat kabar. Karena melalui portal berita, khalayak atau pembaca dapat mengakses dengan mengklik subjek yang terdaftar dalam portal berita sehingga pembaca dapat mengakses sebuah informasi untuk lebih banyak dibandingkan dengan koran harian, hal ini dikarenakan dalam portal berita, wartawan dapat menyisipkan rekaman suara atau bahkan video yang berbeda dengan koran harian. Selain itu, banyak pembaca mengakses situs atau portal berita dikarenakan mereka merasakan keuntungan lebih dalam segi harga, jika koran harian kita diharuskan untuk membayar dengan berita atau informasi yang terbatas dikarenakan produksi sebuah koran yang memakan biaya, sedangkan melalui portal berita, pembaca dengan bebas mengakses informasi secara luas dan gratis dengan kualitas gambar yang lebih bagus. Akan tetapi, dengan berkembangnya akses media cetak berbasis internet, para jurnalis dituntut untuk tetap mempertahankan faktor penulisan berita, yaitu verbal dan visual. Verbal yang menekankan kemampuan dalam memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif serta komunikatif, sedangkan visual yang berfokus pada kemampuan dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak sebuah penulisan berita (Haris Sumadiria, 2017: 4). Karena bagaimanapun, sebagian pembaca tidak hanya melihat rekaman suara atau video, melainkan membaca tulisan yang ada di sebuah berita yang  disajikan. Kesimpulannya, perkembangan sebuah teknologi mempengaruhi perkembangan sebuah media cetak hingga portal berita berbasis internet. Akibatnya, penyebaran sebuah informasi semakin cepat dan masyarakat kebanyakan meninggalkan koran harian berbahan kertas dan beralih ke berita melalui handphone, laptop, tablet karena pembaca sekarang bisa mengakses setiap surat kabar di seluruh wilayah, khususnya di Indonesia. Melalui situs tertentu karena hampir setiap surat kabar di Indonesia dan di dunia melalui situs mereka yang dimana setiap penerbitan mempunyai situs yang memuat berita yang dimuat dalam penerbitan mereka (Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, 2016: 294). Misalkan, jika pembaca ingin mengakses berita mengenai wilayah seputaran Aceh secara lengkap dan cepat, pembaca dapat membuka situs www.serambi.com atau dapat membuka situs www.sripo.com untuk berita di wilayah Palembang, dan sebagainya.

Daftar Pustaka
Nasution, Zulkarimein. 2017. Materi Pokok Perkembangan Teknologi Komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Straubhaar, Joseph, Robert LaRose, and Lucinda Davenport. 2012. Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology. 7: Wadsworth Cengage Learning, Boston
Sumadiria, Haris. 2017. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Features. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. 2016. Jurnalistik: Teori dan Praktik. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA

Comments

Post a Comment